INFORMASI LENGKAP MENGENAI PROVINSI JAMB1
PROVINSI JAMBI
A. GEOGRAFI PROVINSI JAMBI
Provinsi Jambi adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Secara geografis, Provinsi Jambi terletak di antara 0,45° – 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10° – 104,55° Bujur Timur. Awalnya Provinsi Jambi menyatu dengan Provinsi Sumatera Tengah. Namun pada tanggal 6 Januari 1957 Provinsi Jambi melepaskan diri dari Provinsi Sumatera Tengah melalui sidang pleno BKRD (Badan Kongres Rakyak Djambi) dan membentuk provinsi sendiri. Adapun batas-batas wilayah Provinsi Jambi antara lain :
• Sebelah Utara : Berbatasan dengan Provinsi Riau.
• Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan.
• Sebelah Barat : Berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat.
• Sebelah Timurnya : Berbatasan dengan Selat Berhala.
Provinsi Jambi memiliki jumlah penduduknya sebanyak 3.406.178 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 71,18 jiwa/ km². Komposisi penduduk di Provinsi Jambi mayoritas laki-laki sebanyak 1.821.381 jiwa sedangkan komposisi perempuan hanya sebanyak 1.748.891 jiwa. Suku Bangsa di Provinsi Jambi adalah Melayu, Kubu dan Kerinci. Mayoritas Penduduk Provinsi Jambi memeluk Agama Islam (sekitar 98,4%) dan sisanya adalah pemeluk agama Kristen (1,1%), agama Buddha (0,26%) dan agama Hindu (0,117%).
Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi pada tahun 2018 mencapai 7,92 %. Terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,27 dibandingkan pada tahun 2017. Dilihat dari data lima tahun terakhir, rata-rata jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi mengalami penurunan tiap tahun. Tetapi pada tahun 2015 Provinsi jambi mengalami kenaikan jumlah penduduk miskin sebesar 0,47%.
SUMBER : BPS PROVINSI JAMBI 2019
B. LUAS DAN BATAS WILAYAH
Luas Wilayah Provinsi Jambi adalah 50.160,05 km2.
• Sebelah Utara : Berbatasan dengan Provinsi Riau.
• Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan..
• Sebelah Barat : Berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Barat.
• Sebelah Timurnya : Berbatasan dengan Selat Berhala.
SUMBER: BPS PROVINSI JAMBI 2019
C. SEJARAH
Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.
Kekuasan Belanda atas Jambi berlangsung ± 36 tahun karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan MR. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya.
Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.
Sub Provinsi Sumatera Tengah mencakup keresidenan Sumatra Barat, Riau dan Jambi. Tarik menarik Keresidenan Jambi untuk masuk ke Sumatera Selatan atau Sumatera Tengah ternyata cukup alot dan akhirnya ditetapkan dengan pemungutan suara pada Sidang KNI Sumatera tersebut dan Keresidenan Jambi masuk ke Sumatera Tengah. Sub-sub Provinsi dari Provinsi Sumatera ini kemudian dengan undang-undang nomor 10 tahun 1948 ditetapkan sebagai Provinsi.
Dengan UU.No. 22 tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah keresidenan Jambi saat itu terdiri dari 2 Kabupaten dan 1 Kota Praja Jambi. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah Kabupaten Merangin yang mencakup Kewedanaan Muara Tebo, Muaro Bungo, Bangko dan Batanghari terdiri dari kewedanaan Muara Tembesi, Jambi Luar Kota, dan Kuala Tungkal. Masa terus berjalan, banyak pemuka masyarakat yang ingin keresidenan Jambi untuk menjadi bagian Sumatera Selatan dan dibagian lain ingin tetap bahkan ada yang ingin berdiri sendiri. Terlebih dari itu, Kerinci kembali dikehendaki masuk Keresidenan Jambi, karena sejak tanggal 1 Juni 1922 Kerinci yang tadinya bagian dari Kesultanan Jambi dimasukkan ke keresidenan Sumatera Barat tepatnya jadi bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK)
Tuntutan keresidenan Jambi menjadi daerah Tingkat I Provinsi diangkat dalam Pernyataan Bersama antara Himpunan Pemuda Merangin Batanghari (HP.MERBAHARI) dengan Front Pemuda Jambi (FROPEJA) Tanggal 10 April 1954 yang diserahkan langsung Kepada Bung Hatta Wakil Presiden di Bangko, yang ketika itu berkunjung kesana. Penduduk Jambi saat itu tercatat kurang lebih 500.000 jiwa (tidak termasuk Kerinci)
Keinginan tersebut diwujudkan kembali dalam Kongres Pemuda se-Daerah Jambi 30 April – 3 Mei 1954 dengan mengutus tiga orang delegasi yaitu Rd. Abdullah, AT Hanafiah dan H. Said serta seorang penasehat delegasi yaitu Bapak Syamsu Bahrun menghadap Mendagri Prof. DR.MR Hazairin.
Berbagai kebulatan tekad setelah itu bermunculan baik oleh gabungan parpol, Dewan Pemerintahan Marga, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Merangin, Batanghari. Puncaknya pada kongres rakyat Jambi 14-18 Juni 1955 di gedung bioskop Murni terbentuklah wadah perjuangan Rakyat Jambi bernama Badan Kongres Rakyat Djambi (BKRD) untuk mengupayakan dan memperjuangkan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi Jambi.
Pada Kongres Pemuda se-daerah Jambi tanggal 2-5 Januari 1957 mendesak BKRD menyatakan Keresidenan Jambi secara de facto menjadi Provinsi selambat-lambatnya tanggal 9 Januari 1957 . Sidang Pleno BKRD tanggal 6 Januari 1957 pukul 02.00 dengan resmi menetapkan keresidenan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi yang berhubungan langsung dengan pemerintah pusat dan keluar dari Provinsi Sumatera Tengah. Dewan Banteng selaku penguasa pemerintah Provinsi Sumatera Tengah yang telah mengambil alih pemerintahan Provinsi Sumatera Tengah dari Gubernur Ruslan Mulyohardjo pada tanggal 9 Januari 1957 menyetujui keputusan BKRD.
Pada tanggal 8 Februari 1957 Ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein melantik Residen Djamin gr. Datuk Bagindo sebagai acting Gubernur dan H. Hanafi sebagai wakil Acting Gubernur Provinsi Djambi, dengan staff 11 orang yaitu Nuhan, Rd. Hasan Amin, M. Adnan Kasim, H.A. Manap, Salim, Syamsu Bahrun, Kms. H.A.Somad. Rd. Suhur, Manan, Imron Nungcik dan Abd Umar yang dikukuhkan dengan SK No. 009/KD/U/L KPTS. tertanggal 8 Februari 1957 dan sekaligus meresmikan berdirinya Provinsi Jambi di halaman rumah Residen Jambi (kini Gubernuran Jambi).
Pada tanggal 9 Agustus 1957 Presiden RI Ir. Soekarno akhirnya menandatangani di Denpasar Bali. UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Dengan UU No. 61 tahun 1958 tanggal 25 Juli 1958 UU Darurat No. 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan Daerah Sumatera Tingkat I Sumatera Barat, Djambi dan Riau. (UU tahun 1957 No. 75) sebagai Undang-undang.
Dalam UU No. 61 tahun 1958 disebutkan pada pasal 1 hurup b, bahwa daerah Swatantra Tingkat I Jambi wilayahnya mencakup wilayah daerah Swatantra Tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta Kecamatan-Kecamatan Kerinci Hulu, Tengah dan Hilir.
Kelanjutan UU No. 61 tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 Desember 1958 Mendagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang ditugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK Nomor UP/5/8/4). Pejabat Gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung Nasional Jambi (sekarang gedung BKOW). Kendati dejure Provinsi Jambi di tetapkan dengan UU Darurat 1957 dan kemudian UU No. 61 tahun 1958 tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat Jambi melalui BKRD maka tanggal Keputusan BKRD 6 Januari 1957 ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Djambi Nomor. 1 Tahun 1970 tanggal 7 Juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi.
SUMBER: PEMERINTAH KOTA JAMBI
SUMBER: INDHEPEDIA.COM
D. DEMOGRAFI
SUMBER: BPS PROVINSI JAMBI
E. AGAMA DAN SUKU BANGSA
Dari jumlah tersebut, 3,38 juta jiwa atau 95,07% penduduk di provinsi tersebut memeluk agama Islam. Sebanyak 116,92 ribu jiwa atau 3,29% penduduk Jambi beragama Kristen.Ada pula 34,43 ribu jiwa atau 0,97% penduduk di provinsi tersebut yang beragama Buddha.
SUMBER: BALAI PELESTARIAN PENINGGALAN PURBAKALA JAMBI
A. Suku Batin
Suku Batin adalah suku Melayu di provinsi Jambi di bagian pedalaman Pulau Sumatera. Suku ini menggunakan bahasa Melayu dengan dialek Jambi. Suku Batin kebanyakan beragama Islam, tetapi menganut sistem matrinlineal. Orang Batin suka hidup berpindah-pindah dan berjiwa gotong royong. Masyarakat Batin berasal dari orang yang mendiami daerah pegunungan. Kebudayaan orang Batin merupakan kebudayaan berunsur Melayu dan beberapa mengalami perpaduan dengan budaya Minangkabau. Suku Batin mendiami sekitar Pegunungan Bukit Barisan, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Merangin, Kabupaten Bungo, dan Kabupaten Tebo di Provinsi Jambi.
B. Suku Kubu
Suku Kubu atau juga dikenal dengan “Suku Anak Dalam” merupakan penyebutan untuk masyarakat yang tinggal di kawasan hutan dataran rendah di Sumatera Tengah khususnya Jambi. Penyebutan ini mengeneralisasi dua kelompok masyarakat yaitu Orang Rimba dan Suku Batin Sembilan. Kubu berasal dari kata ngubu atau ngubun dari bahasa Melayu yang berarti bersembunyi di dalam hutan.
C. Suku Melayu
Melayu Indonesia adalah Suku Melayu yang tinggal di Indonesia. Ada sejumlah kerajaan Melayu di Indonesia yang berada di pesisir timur Sumatera dan Kalimantan Barat. Ada beberapa kerajaan Melayu yang terkenal di antaranya adalah Siak Sri Indrapura, Kesultanan Deli, Kesultanan Riau Lingga, Kesultanan Jambi, dan Kesultanan Palembang. Sumatera adalah pusat penyebaran bahasa Melayu, yang saat ini menjangkau sebagian Asia Tenggara. Bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa resmi negara dan lingua franca, didasarkan pada bahasa Melayu Riau. Bahasa Melayu memiliki sejarah panjang, yang memiliki catatan sastra hingga abad ke-7 Masehi. Prasasti Melayu awal yang terkenal, Prasasti Kedukan Bukit, ditemukan oleh orang Belanda M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920, di Kedukan Bukit, Sumatera Selatan, di tepi sungai Tatang, anak sungai Musi. Prasasti Melayu berbentuk batu kecil berukuran 45 x 80 sentimeter. Teks prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, yang diperkirakan sebagai nenek moyang bahasa Melayu saat ini dan variannya.
D. Suku Anak Dalam Batin
Sembilan Suku Anak Dalam (SAD) Batin adalah kelompok suku lokal yang salah satunya bermukim di Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Keberadaan SAD Batin Sembilan telah ada sejak sebelum masa kemerdekaan juga sejak Desa Tanjung Lebar masih berstatus sebagai dusun sebelum tahun 1981. Semenjak diberlakukan Undang-Undang Desa pada tahun 1979, banyak perubahan yang dihadapi oleh SAD Batin Sembilan seiring dengan perubahan status dusun menjadi desa tersebut. Perubahan tersebut disusul oleh adanya gelombang besar kedatangan masyarakat pendatang akibat adanya kebijakan transmigrasi dan perhutani, perusahaan, maupun penduduk wilayah lain yang datang dengan sendirinya untuk membuka ladang baru. SAD Batin Sembilan telah membaur dengan suku bangsa lain dan sulit dikenali perbedaannya. Mereka tidak lagi hidup bergerombol dalam sukunya, sebagaimana yang dilakukan oleh Orang Rimba. SAD Batin Sembilan juga telah menggunakan pakaian layaknya masyarakat pada umumnya dan memanfaatkan teknologi modern seperti alat komunikasi, kendaraan bermotor, dan sarana hiburan.
E. Suku Kerinci
Suku Kerinci adalah kelompok etnik pribumi Sumatera yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Jambi, Indonesia dan daerah lainnya. Suku bangsa ini banyak berpusat di Kabupaten Kerinci yang terletak dekat perbatasan Provinsi Sumatera Barat. Secara topografi Kabupaten Kerinci memiliki tanah berbukit dan berlembah dalam deretan Pegunungan Bukit Barisan dengan puncak tertinggi Gunung Kerinci.
SUMBER: KOMPAS.COM
F. EKONOMI
Mata pencaharian masyarakat Jambi adalah bertani, berjualan, panen getah dan melaut(istilah dalam bahasa Jambi mencari ikan di Sungai Batanghari). Di Jambi sendiri kebanyakan daerahnya adalah berupa hutan.
SUMBER: JAMBIPROV.GO.ID
G. PEMERINTAHAN
SEKDA: PEMPROV JAMBI UPAYAKAN OPTIMALISASI PENGGUNAAN DATA KEPENDUDUKAN. Jambi (Diskominfo Provinsi Jambi) - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi.
SUMBER: JAMBIPROV.GO.ID
H. PARIWISATA
Jambi adalah salah satu daerah yang jadi penyumbang keelokan Indonesia. Bukan hanya alamnya yang eksotis, provinsi yang memiliki sejarah panjang ini juga memiliki banyak peninggalan historis di tanahnya.
Bukan tanpa alasan, provinsi di pulau Sumatra ini berhasil menarik perhatian turis lokal maupun mancanegara. Sebagai bukti, ini dia pilihan destinasi wisata di Jambi terbaik yang bisa membuat liburan jadi berkesan!
1. DANAU KACO
Dengan air sebening kaca dan tanaman hijau di sekelilingnya, Danau Kaco menawarkan atmosfer yang menenangkan. Perjalanan menuju danau ini memang cukup Menantang, tapi lelahmu akan terbayarkan dengan perasaan rileks ketika kamu mencapai danau.
• Lokasi: Dusun Baru Lempur, Gunung Raya, Kerinci, Kota Jambi
• Jam Operasional: 24 jam
• Tiket Masuk: Rp5.000/orang.
2. DANAU GUNUNG TUJUH
Kalau kamu sedang mencari ketenangan karena penat dengan rutinitas sehari-hari, maka destinasi satu ini tepat untuk kamu. Dinobatkan sebagai danau vulkanik tertinggi se-Asia Tenggara, bersantai di danau ini tentunya menjauhkanmu dari bisingnya keramaian.
Kalau kamu mau menghabiskan waktu lebih lama, kamu juga bisa berkemah dengan membawa peralatanmu sendiri. Coba bayangkan betapa segarnya menarik napas di danau yang dikelilingi area hijau ini!
• Lokasi: Pesisir Bukit, Gn. Tujuh, Kerinci, Jambi
• Jam Operasional: Setiap hari, 07.30–17.00 WIB
• Tiket Masuk: Gratis
3. WORLD OF WATER PARK
Destinasi wisata Jambi yang satu ini pas banget kalau kamu liburan bersama anak. Tapi tenang, yang dewasa juga tetap bisa bersenang-senang dengan mencoba wahana-wahana di World of Water.
Pokoknya, kamu harus mencoba Masurai Tower, perosotan setinggi 15 meter yang serunya siap bikin kamu teriak. Setelah memicu adrenalin, kamu bisa bersantai di Lazy River dan rileks sambil membiarkan arus yang tenang membawamu.
• Lokasi: Jalan Raya East Avenue Blok A No 1, Mendalo Darat, Kec. Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi 36657
• Jam Operasional: 09.00–18.00 WIB (Selasa)
SUMBER: TOKOPEDIA.COM
I. KEBUDAYAAN
1. PAKAIAN ADAT
Budaya yang pertama kita mulai dari pakaian adat Jambi, bernama baju kurung tanggung yang dipakai oleh laki-laki dan perempuan, pakaian ini terdiri dari penutup kepala atau lacak. Penutup kepalanya terbuat dari beledru warna merah yang memiliki 2 bagian yang menjulang tinggi pada bagaian depannya. Lalu untuk pakaian adat yang perempuan yakni kain selendang berwarna merah dan kain karung songket, nama pakaiannya baju kurung tanggung bersulam benang emas. Bermotif hiasan pelangi, kembang tagapo dan pucuk rebung.
2. RUMAH ADAT
Budaya jambi yang kedua ialah rumah lajang lako atau biasa bernama dengan rumah lamo. Rumah adat Jambi merupakan tempat tinggalnya masyarakat marga bathin. Nenek moyang mereka mewariskan rumah adat tersebut untuk masyarakat bathin. Konon orang bathin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari koto rayo, mereka merupakan asal mula marga bathin v dengan 5 dusun asalnya. Awal mula masyarakat bathin terdiri dari 5 kelompok asal yang membentuk lima dusun, salah satunya penduduk bathin yang ada sampai sekarang ada di daerah rantau panjang.
SUMBER: KABARAPIK.COM
I. TOKOH TERKENAL
1. Sultan Thaha Syaifuddin
Sultan Thaha Syaifuddin (Jambi, 1816 - Betung, 26 April 1904) adalah sultan terakhir dari Kesultanan Jambi. merupakan pahlawan nasional asal Jambi yang dilahirkan pada pertengahan tahun 1816 di Keraton Tanah Pilih Jambi.
Ia merupakan putra dari Sultan M. Fachrudin dengan gelar sultan Kramat. Nama asli Sultan Thaha adalah Sultan Raden Toha Jayadiningrat. Ketika kecil ia biasa dipanggil Raden Thaha Ningrat.
Meskipun ia terlahir dari kalangan bangsawan, ia memiliki sikap yang rendah hati, senang bergaul dengan masyarakat dan sangat membenci Belanda. Aktivitas melawan Belanda makin gencar sejak ia naik tahta menjadi Raja Jambi pada tahun 1855. Usahanya melawan Belanda dilakukan dengan mengalang kekuatan masyarakat dan berkerjasama dengan raja Sisingamangaraja.
Tahun 1841 ia diangkat sebagai Pangeran Ratu (semacam perdana menteri) di bawah pemerintahan Sultan Abdurrahman. Sejak itu, ia memperlihatkan sikap menentang Belanda. Ketika sebuah kapal dagang Amerika berlabuh di pelabuhan Jambi, ia berusaha mengadakan kerja sama dengan pihak Amerika.
2 KOLONEL ABUNJANI
Kolonel Abunjani lahir di Batang Asai, kabupaten Sarolangun-Bangko (sekarang dipecah menjadi kabupaten Sarolangun dan Merangin) pada tanggal 24 Oktober 1918. Abunjani merupakan anak seorang demang yang berkedudukan di Rantau Panjang, Batang Asai yang bernama Demang Makalam. Demang Makalam berasal dari Pondok Tinggi, Kerinci, sedangkan ibunya bernama Siti Umbuk berasal dari Desa Keladi.
Abunjani merupakan anak keempat dari 5 bersaudara dengan urutan sebagai berikut: Siti Rodiah, M. Kamil, Siti Raimin, dan adiknya M. Sayuti.
SUMBER: BIOGRAFI TOKOH TERNAMA BLOG.COM
K. PERGURUAN TINGGI DAN PEDIDIKAN
Universitas Jambi adalah perguruan tinggi negeri yang berada di Provinsi Jambi, Indonesia, yang berdiri pada 23 Maret 1963. Rektor pada saat ini adalah Prof. Drs. H. Sutrisno, M.Sc., Ph.D.
Alamat: Jl. Jambi - Muara Bulian No.KM. 15, Mendalo Darat, Kec. Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi
Jurusan apa saja yg ada di Universitas Jambi?
• Pertanian. Ekonomi Dan Bisnis. Hukum. Peternakan. Sains Dan Teknologi. Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan.
• LAPOR.
• Daftar Informasi Publik.
SUMBER: REGIONAL KOMPAS COM.
Categories:
All Post
.png)

.png)


.png)














